Sunday, November 8, 2015

Resmi sebagai Pelari Marathon

Kegiatan Jakarta Marathon tahun 2015 berlangsung pada 25 Oktober yang lalu. Sebagai peminat olahraga lari, kegiatan ini sayang untuk dilewatkan. Jika tahun 2014 lalu berpartisipasi kategori half marathon, tahun ini naik kelas menjadi full marathon. Dan berhasil hingga ke garis finish dengan catatan waktu 05:11:01. Saya pun resmi jadi Marathoner.
A photo posted by Alisyah Samosir (@alisyahj) on

5 jam 11 menit itu yang penuh perjuangan. Capek sih enggak (entah kenapa, padahal kalau latihan 2 jam saja nafasnya sudah habis), tapi paha dan betis keram iya. Pengen menyerah dan naik ambulans saja. Garis finishnya entah dipindah ke mana makanya kok nggak sampai-sampai. Teriakan semangat dari para komunitas lari pun hanya mood booster sesaat hahaha. Tapi pas mencapai garis finish rasanya luar biasa. Senang. Bangga. Tidak pernah terpikirkan bisa lari di panasnya Jakarta sejauh 42 km. Dikalungin medali finisher rasanya seperti atlit sungguhan.

Namun yang paling seru malah cerita setelah marathon-nya.

  1. Minggu marathon, Senin cuti mendadak karena pas bangun pagi susah bergerak. Punggung, lengan, terutama paha dan betis, semuanya pegal. Jalannya lurus dan selangkah-selangkah persis robot. Selama 4 hari tersiksa setiap kali harus naik-turun tangga. Padahal saya pergi dan pulang kerja naik Transjakarta. Selamat!
  2. Lecet dimana-mana. Lengan kiri-kanan lecet akibat gesekan dengan baju. Bagian paha dalam juga banyak lecet. Pedihnya tuh di sono pas mandi. Ampun. Perlu pakai celana lari yang ketat sehingga tidak ada gesekan yang tidak perlu di area selangkangan.
  3. Jempol kaki kiri darahnya membeku dan kuku menghitam.
  4. Telapak kaki kanan cedera. Sampai sekarang (2 minggu setelah marathon), kalau lari masih sakit. Padahal hari Minggu nanti sudah daftar ikut half marathon 2XU di BSD.

Berlari sejauh 42.195 km di jalanan Jakarta yang panas bukan hal yang mudah. Berikut catatan dari saya yang bisa diterapkan sebelum dan selama marathon:

  1. Berlatih. Saya mengikuti program gratis dari Nike+ yang bisa di-download dari Google Play atau App Store. Latihan ini untuk membiasakan otot-otot kaki dan badan supaya pas marathon nanti ototnya tidak terkejut yang akibatnya keram. 
  2. Sepatu Lari. Selama program latihan, coba gonta-ganti sepatu, termasuk padu-padannya dengan kaos kaki, hingga menemukan kombinasi paling nyaman. Kuku jempol kaki saya menghitam karena sepatu yang tidak nyaman, diikat terlalu ketat, akibatnya pembuluh darah di sekitar kuku pecah.
  3. Running Gears. Menurut saya lebih sederhana lebih bagus, cukup baju tanpa lengan dan celana pendek. Tapi kalau di jalanan Jakarta yang cerah/panas, bisa pertimbangkan baju lengan panjang, celana panjang juga, topi, dan kacamata hitam. Namun kacamata bisa jadi malah mengganggu kalau kena keringat.
  4. Minuman. Usahakan minum di setiap water station. Waktu marathon kemarin, karena sponsor resminya Poca*i Sw*at, perut kembung kekenyangan isotonic. Mulai KM 34 saya hindari isotonic, pilih air mineral, buah, es, cendol, dll yang banyak disediakan di water station komunitas lari. Saya kebanyakan makan waktu itu haha, di setiap water station saya terima saja makanan-makanan yang mereka tawarkan.
  5. Sponge. Membantu mendinginkan suhu tubuh untuk sementara waktu. Penyegaran. Namun kalau kebanayakan, airnya bisa mengalir hingga kaos kaki dan berlari jadi tidak nyaman. Kejadian pada saya.
  6. Marshall dan atau petugas medis. Perhatikan posisi mereka. Waspada butuh bantuan sekedar air mineral atau cold spray kalau keram.
Salam lari, mari lari.

No comments:

Post a Comment