Saturday, October 29, 2016

Jakarta Marathon 2016: Belajar dari Pengalaman

Tahun ini Jakarta Marathon kembali dihelat, dengan rute yang sama persis. Kirain rutenya akan beda karena beberapa waktu lalu Pemda DKI melarang kegiatan yang melibatkan massa dihelat di Monas. Tapi ternyata start dan finish Jakarta Marathon 2016 masih di sana.

Tahun ini aku tetap partisipasi di kategori full marathon. Masa downgrade dari tahun lalu? :))

Nah, target tahun ini sebenarnya yang penting finish. Nggak berani ngejar PB karena alasan ini dan itu. Pun dalam hati berikrar, kalau di tengah jalan cidera dan nggak kuat lagi, tidak usah malu naik ambulans. Jangan sampai memaksa dan menciderai diri, karena yang begitu sudah bertolak belakang dengan semangat olahraga yang notabene untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh, dan jiwa.


Sabtu malam H-1 Jakarta hujan deras. Minggunya peserta FM start jam 5 yang masih gelap. Sekitar 5.30 malah byar... hujan deras. Ada yang berteduh tapi kebanyakan terus berlari dan menikmati hujan. Termasuk aku. Enak bener lari hujan-hujanan. Kayak balik ke jaman anak-anak dulu, bedanya yang dulu telanjang hahaha. Jadilah badan basah kuyup dan sepatu terasa lebih berat, namun hati riang gembira.

Full marathon tahun lalu yang mana merupakan FM pertama, terjadi drama yang bermula dari KM24. Kedua betis keram bergantian sepanjang perempatan kuningan depan Wisma Mulia hingga perempatan kuningan lagi tapi yang depan Balai Kartini, sampai 4x disemprotkan pain reliever. Puncaknya paha kanan keram di KM33. Sama sekali tidak bisa berjalan apalagi berlari. Akhirnya duduk dan menekuk-luruskan kaki sambil melihat nanar pelari-pelari yang melewati. Itu treatmentnya berlangsung 10-15menit. Setelahnya lanjut lagi dengan kombinasi lari lambat-jalan-lari lambat sampai garis finish. Tapi penderitaan setelah finish lebih drama lagi. Hahaha.

Dengan niat menghindari drama yang sama berulang, maka tahun ini pasang strategi:
  1. Keep at steady pace. Tahun lalu saya mengekor ke pacer 4:30. Tapi karena merasa mereka terlalu lambat, aku lari lebih kencang sejak dari Kota Tua. Hingga kemudian kejadian di KM24 itu. Aku memang nggak melihat mereka melewatiku, tapi yakin mereka tetap finish di 4:30. Sementara aku di 5:11:01 hahaha. FM kemarin tidak lagi patentengan, larinya di pace yang kurang lebih sama sepanjang 42 km.
  2. Minum di setiap water station (WS) dan minum air mineral. Tahun lalu sengaja nge-skip beberapa WS karena tidak merasa haus. Dan kalau minum, selalu pilih minuman isotonik. Jadinya perut kembung. Tahun ini selalu minum di setiap WS dan selang-seling antara air mineral dan isotonik. Demikian halnya juga dengan buah.
  3. Menghindari Sponge. Marathon 2015 lalu cuacanya terik banget dan sponge sangat membantu mendinginkan badan. Masalahnya air dari spongenya mengalir hingga ke kaki dan bermuara di kaos kaki. Efeknya lari jadi nggak nyaman. Dan sepertinya punya andil terhadap cidera kuku dan telapak kaki. Tahun ini sama sekali menghindari sponge, padahal menggoda banget sepanjang KM32-39 (sebelum kehujanan lagi dari KM39 hingga finish)
  4. Persiapkan energi cadangan. FM 2015 lalu melimpah buah-buahan, energy gel, juga salt stick. Helatan tahun ini lebih melimpah lagi, terutama di WS komunitas *angkat topi untuk mereka semua*. Tapi WS komunitas biasanya ramai mulai KM19. Nah sebelum KM19 kan butuh asupan energi juga. Tahun lalu karena masih newbie, tidak ada persiapan apa-apa. Tahun ini ngantongin snickers. Sambil lari sambil ngemut snickers. Asoy.
Hasilnya apa? Apakah masih keram? Iya masih. Setiap terasa akan keram, tempo diturunkan jadi lebih lambat atau diubah jadi jalan cepat, dengan begitu keramnya hilang dengan sendirinya. Sekalian untuk ambil nafas juga. Setelah itu lari lagi dengan pace semula. FM kemarin sama sekali tanpa spray/pain killer, tanpa drama menekuk-luruskan kaki. Drama penderitaan jalan kaki hingga H+4 juga tidak terjadi.

Tapi cidera kuku kaki menghitam, dan akan mengelupas nanti, juga masih terjadi. Ini sepertinya harus ganti sepatu dengan ukuran yang lebih besar. Lecet paha bagian dalam juga masih. Sedang mempertimbangkan untuk pindah ke compression *masalahnya lebih ke duit sih kalau yang ini hahaha*

Akhirnya, FM Jakarta Marathon 2016 kemarin saya finish 5:16:55. 5 menit 54 detik lebih lambat dari FM tahun lalu. Tapi tahun ini less drama dan lebih menikmati lari dan post-racenya.

No comments:

Post a Comment